Mengenal Sains dari Keberadaan Super Blue Blood Moon

Kurang lebih 2 tahun lalu jika kalian masih bisa memutar memori, maka kalian akan mengingat dimana munculnya fenomena alam Super Blue Blood Moon. Nah dari fenomena ini, kira-kira apa sih yang bisa kalian dapat atau kalian ketahui tentang Super Blue Blood Moon tersebut ? …

Jadi nama fenomena alam ini adalah Super Blue Blood Moon. nama ini bukan sembarang nama yang bisa diambil begitu saja, melainkan menjadi nama dikarenakan sebuah peristiwa dari gabungan antara 3 fenomena bulan sekaligus. Supermoon sendiri dikarenakan Bulan memang akan berada langsung dengan jarak terdekatnya pada Bumi. sehingga dalam hal ini akan terlihat adanya 14% jauh lebih besar dan juga 30% jauh lebih terang dibandingkan dari biasanya. Untuk Blue Moon sendiri menjadi sebuah julukan resmi bagi purnama yang sudah muncul untuk kedua kalinya di dalam satu bulan kalender. 

Bulan ini sendiri akan langsung ditutupi dengan bayangan pada Bumi, jadi akan membuatnya jauh lebih tampak kemerahan seperti warna Darah dan sampai pada penyebutannya menjadi Blood Moon. hal ini juga sudah dikarenakan sinar matahari bisa menembus atmosfer Bumi sebelum sampai ke Bulan. Gas-gas yang ada di Atmosfer juga bisa menyebarkan cahaya Biru dan bisa meloloskan cahaya merah. Sampai pada akhirnya, terjadi 3 fenomena ini secara bersamaan dan menjadi momen langka. Mengapa demikian ? karena terakhir muncul fenomena ini dalam kurun waktu 152 tahun yang lalu. 

Kapan dan Bagaimana Cara Melihat Fenomena Alam Ini ? 

LAPAN – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional sendiri mengatakan, Gerhana bulan ini akan dimulai sejak pukul 18.48 Waktu Indonesia Barat (2018) dan bisa mencapai puncaknya ketika pukul 20.30 WIB (2018). Munculnya gerhana ini memang diperkirakan secara langsung sekitar 4 jam lamanya. Fenomena tersebut bisa dengan mudah kalian amati di bagian seluruh wilayah Indonesia dan sebagian besarnya ada di permukaan bumi. 

Waktu kejadian ini berlangsung, masyarakat yang ada di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, lalu Kalimantan, Sulawesi, Pulau Dewata Bali, Papu dan sekitarnya bisa menyaksikan langsung seluruh tahapan demi tahapan dari gerhana tersebut. Sementara untuk sisanya hanya mampu melihat dari fase total dan juga parsialnya saja. Untuk masyarakat yang ada di luar negeri seperti negara Amerika Selatan dan juga Afrika maka tidak akan bisa melihatnya sama sekali. 

Fenomena kedatangan Super Blue Blood Moon ini memang benar-benar bisa diamati langsung dengan menggunakan mata penglihatan kalian secara langsung. Bulan Purnama sendiri akan terlihat berwarna merah dan jauh lebih besar juga dibanding yang biasanya. Kepala LAPAN yang bernama Thomas Djamaluddin sudah menerangkan bahwa awal hanya ada di sisi timur dari bulan purnama yang tampak. Lalu bulan bisa tampak sangat jelas alias secara full dengan memasuki fase total yakni pada jam 19.52 WIB hingga 21.08 WIB (2018) sampai pada proses gerhana berakhir dengan lepasnya purnama dari bayangan Bumi di pukul 22.11 WIB (2018). 

Adakah Dampak yang Terjadi Terhadap Planet Bumi ?

Masih menurut keterangan kepala LAPAN Thomas Djamaluddin yang dikutip langsung dari situs bbc.com, tepat pada tanggal 31 Januari terdapat efek Bulan Purnama terhadap Bumi yang mana akan jatuh jauh lebih kuat dari biasanya. Gravitasi Bulan dengan Matahari ini akan mempengaruhi pasang dari Air Laut. jadi ketika sedang terjadi gerhana Bulan, yang berarti posisi Bumi sedang berada di tengah matahari dan juga Bulan. Ditambah pula pada jarak bulan yang begitu dekat dengan adanya bumi dan pasang air laut akan mencapai batas maksimumnya. 

Unik | Fenomena Super Snow Moon Pengaruhi 5 Pesisir
Bersumber langsung dari data terpercaya yakni pusatnya BMKG

Dampaknya sendiri bisa dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pantai Landai, seperti halnya di beberapa daerah Pantai Utara Jawa. thomas pun memberikan cuitan : jika memang terjadi cuaca buruk di laut dan bisa menimbulkan adanya gelombang tinggi, banjir besar akan langsung saja melimpah semakin jauh ke daratan yang ada. Ini dikutip langsung dari cuitan Thomas Djamaluddin. Dirinya juga sempat menambahkan kalian yakni : dampak lainnya yakni ketika terjadi banjir diakibatkan hujan lebat di daerah daratan, maka banjir ini akan jauh lebih lama surutnya dikarenakan dampak dari pasang maksimum tersebut. 

Tindakan Apa yang Dibuat para Ilmuwan dalam Memanfaatkan Fenomena Langka ini ? 

Seperti ilmuwan yang ada di NASA misalnya, gerhana yang sudah terjadi sejak 31 Januari 2018 silam menjadi sebuah kesempatan emas untuk bisa mengamati apa yang benar-benar akan terjadi ketika nantinya permukaan Bulan ini mendingin dengan begitu cepat ! ketika nantinya Gerhana Bulan mulai ada penurunan temperatur yang begitu drastis, maka seakan-akan permukaan dari Bulan ini bisa berubah sepanas oven dan bisa menjadi dingin juga semacam Freezer hanya dalam jangka waktu beberapa jam saja. 

Hasil dari pengamatan dalam kondisi ini akan membantu mereka semua memahami karakteristik regolith yakni : adanya campuran tanah serta bebatuan di atas permukaan Bulan dan perubahannya sendiri terjadi dari waktu ke waktu. Selama gerhana, para Ilmuwan juga akan langsung mengamati Bulan dengan menggunakan kamera Termal sampai mempelajari adanya wilayah yang biasanya memang tidak terlihat. 

Super Blue Blood Moon' Coming Jan. 31, 2018 | NASA

Sementara itu, di negara Indonesia yakni di negara kita sendiri Gerhana Bulan jadi jauh lebih dijadikan sebuah sarana edukasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan Sains. LAPAN juga membuka adanya fasilitas bagi masyarakat yang ingin langsung melihat gerhana lewat Teleskop di beberapa daerah yakni : Bandung, Sumedang, Garut, Pasuruan, Biak, Pontianak sampai ke daerah Bukit Tinggi juga bisa kalian lihat fenomena tersebut. Dalam artian, cukup luas uga daerah yang bisa memantau terjadinya Gerhana ini. 

Untuk di Jakarta sendiri, ada tempat yang bisa untuk melihat terjadinya fenomena tersebut seperti Planetarium taman Ismail Marzuki serta di TMII juga dikhususkan untuk dibuka pada saat malam gerhana tiba. Thomas juga Mengatakan bahwa dahulu Gerhana Bulan ini sering sekali dimanfaatkan hanya untuk penelitian khusus dari kualitas udara. Sebagai contohnya : di tahun 1815 Gunung Tambora sendiri meletus. Namun untuk sampai detik ini para Ilmuwan menggunakan metode lain yang jauh lebih mangkus hanya untuk bisa mengukur adanya kualitas dari Global. 

Kesimpulan Fakta-Fakta yang Terjadi pada Fenomena Alam ini !

Dari semua penjelasan yang ada di atas ini, maka bisa kami buat kesimpulan dari Super Blue Blood Moon menjadi fakta-fakta menarik yang jauh lebih singkat untuk bisa kalian mengerti. Misalnya saja : 

1.1 Fenomena Super Blue Blood Moon terjadi sudah 152 tahun yang lalu dan dulunya pernah terjadi di Amerika Serikat dan Amerika Utara pada tanggal 31 Maret tahun 1866. 

2.2 Nyatanya, Super Blue Blood Moon ini menjadi gabungan dari 3 fenomena alam yakni : (1) Supermoon pada Fenomena pertama, (2) Bluemoon untuk Fenomena Alam yang Kedua, (3) dan Blood Moon menjadi Fenomena Alam terakhir yang menyempurnakan kejadian Super Blue Blood Moon. 

3.3 Fenomena alam ini mampu untuk bisa dinikmati di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah Indonesia di beberapa pulau.  

4.4 Faktanya, Negara Indonesia paling lama untuk bisa menikmati fenomena alam Super Blue Blood Moon tersebut. Yakni selama 4 Jam lamanya. Selain itu, dari hadirnya Super Blue Blood Moon ini beberapa daerah bisa melihat adanya tahapan-tahapan sampai gerhana bulan ini ada pada fase total. 

Jadi bagaimana nih, apakah kalian sudah memutar memori kalian di tahun tersebut ? jika sudah, maka apa kalian termasuk orang yang beruntung bisa melihat terjadinya fenomena alam tersebut ?