tanaman Lumut

Keberadaan Sains pada Polusi Alami

Jika berbicara mengenai Polusi, maka akan selalu berhubungan dengan berbagai macam unsur-unsur yang ada pada dunia sains. Selain daripada itu, polusi sendiri kalian lebih mengenalnya sebagai pencemaran yang tidak baik atas CO2 yang menyebar di udara dalam jumlah banyak dan berbentuk udara tidak segar. Akan tetapi, dalam hal ini apakah kalian mengetahui lebih jelas apa itu polusi alami ? .. lalu tahu juga tidak kalian, dengan apa saja yang sebenarnya terjadi pada polusi Alami ini ?.. 

Sebelumnya telah ada keluaran terhadap alat pendeteksi pada tingkatan polusi. Yang dimana, dalam hal ini ada banyak sekali organisme hidup yang berada di sekitaran kita dengan cara melakukan pendeteksian polusi pada suatu wilayah yang ada.  

Di sini, ada pula para peneliti yang telah menyebutkan adanya Bioindikator, yakni adanya organisme hidup yang telah memberikan adanya gambaran mengenai kondisi pada kesehatan suatu ekosistem yang ada. Di sini juga ada Bioindikator yang bisa dengan mudah kalian temui dan sebenarnya tanpa sadar malah sudah kalian temui sebelumnya.  

Jika kalian penasaran, langsung saja kalian cek ada 4 Indikator pada polusi Alami yang bisa kalian ketahui pada kehidupan kita sehari-hari ini. Let’s go guys… 

POLUSI ALAMI DI SEKITARAN HIDUP MANUSIA  

Alami = Sains, yang sudah pasti ini akan saling menyangkut satu sama lainnya ya. Langsung saja, cek Bioindikator mana yang lebih sering kalian jumpai sehari-hari.  

1.1 Hewan Katak atau Kodok  

Ada yang bilang ini hewannya sama namun, ada juga yang bilang hewan ini memiliki perbedaan tersendiri. Katak atau Kodok, Katak Dan Kodok, Katak Dengan Kodok, yang mana ini menjadi hewan amfibi sekaligus menjadi Bioindikator. Untuk hewan Katak dan Kodok ini sendiri bisa digunakan dalam mengetahui apakah nanti wilayah tersebut masih dalam kondisi yang baik atau malah tidak. Disini,  pada keberadaan serta jumlah populasi Kodok dan juga katak ini sudah di pengaruhi langsung pada kondisi lingkungan.  

Untuk mengetahui adanya kapasitas Normalnya, dimana untuk tiap 1000 tahun sekali sudah pasti akan ada 1 spesie amfibi dinyatakan punah. Akan tetapi, pada waktu selama 20,000 tahun terakhir dikatakan sudah ada 168 spesies amfibi yang punah dengan cara yang global. Mengenai alasan utamanya mengalami kepunahan pada spesies amfibi ini ialah dengan hilangnya habitat dari tempat tinggal mereka semua yang mana sudah meningkatkan langsung pada hilangnya tingkatan polusi, lalu adanya patogen serta adanya masuk spesies asing lainnya.  

Tahukah kalian, jika sebenarnya Kotok dan Katak ini mudah sekali rentan ?.. pasalnya ini semua di karenakan adanya katak dan juga kodok yang memiliki kulit permeable yang mudah sekali terpapar langsung dengan menyerap adanya zat beracun. Pertumbuhan serta kelangsungan hidup dari keduanya ini sangatlah mencerminkan adanya kondisi lingkungan dari kedua hewan tersebut, terutama lagi si pada kualitas airnya, vegetasinya serta habitat pada pemijahan yang ada. Maka dari itulah, tingkat kepunahan katak dan kodok yang sangatlah tinggi ini sudah mengingatkan langsung ke kita semua akan pentingnya untuk menjaga lingkungan yang ada di sekitar kita.  

1.2 Tanaman bernama Lumut  

Tanaman yang cepat sekali datang ketika kelembaban suhu pada sekitaran air sedang menaik ini disebut juga sebagai tanaman Lumut. Untuk lumut sendiri, jauh lebih umum untuk di temukan pada bagian batang pohon, serta batuan yang memanglah sudah tersusun dari adanya alga dan juga jamur yang terbilang sangatlah sensitif terhadap racun yang memang berada di udara.  

Lumut sendiri dengan mudah memperoleh adanya Nutrisi melalui jalur udara bersih yang kemudian berkembang menjadi Bioindikator pada kualitas udara yang ada disekitarnya itu. Lumut mendapatkan sebuah reaksi akan perubahan ekologis yang berada di hutan, termasuk lagi pada kualitas udara di hutan serta sangkut pautnya dengan iklim yang ada. Hilangnya lumut sendiri dari adanya lingkungan dalam menunjukkan sebuah stress di lingkungan yang memang sudah di sebabkan langsung dari meningkatnya kadar polutan seperti adanya sulfur dioksida atau SO2, Polutan hingga adanya Nitrogen atau N2.  

Lumut sendiri sering sekali di gunakan untuk bisa memantau adanya kondisi hutan dengan memiliki alasan karena Lumut ini ialah organisme sederhana yang tidaklah memiliki akar serta kulit. Kondisinya sendiri juga sangat baik untuk di tandai dengan keberadaan lumut yang sangat melimpah. Sedangkan itu untuk hutan yang dikatakan rusak ini juga sudah di tandai langsung dengan adanya hilang keberadaan dari lumut tersebut.  

1.3 Biota Laut Bivalvia  

Kita kenalnya dengan nama makanan kerang-kerangan yang mana sering banget sebagai salah satu indikator pada pencemaran pesisir laut. Halnya sendiri juga sudah di sebabkan langsung dari kehidupan Bivalvia berhubungan langsung dengan adanya sedimen dan inilah yang mampu untuk melakukan penyaringan bahan makanan dengan kemampuan untuk bisa menimbulkan bahan pencemar di dalam tubuhnya itu.  

Bivalvia ini juga telah di teliti dalam memantau pada tingkat pencemaran dari berbagai macam polutan yang berada di laut. Polutan ini sendiri ialah Radionuklida buatan, Hidrokarbon Terklorinasi serta adanya Logam. Di Indonesia Bivalvia yang sangat terkenal ialah Kerang Hijau. Kerang ini juga bisa untuk di gunakan dalam menjernihkan adanya air laut dan juga hal ini bisa dilakukan karena kerang ini adalah filter alami dalam memperbaiki kualitas air laut.  

Kemampuan untuk filter ini sendiri dan juga kemampuan dari mengumpulkan adanya polutan pada tubuh kerang yang di bagian lunak kerang ini sudah sering sekali terkontaminasi dari adanya polutan logam berat. Maka dari itu sebelumnya kalian mengkonsumsi adanya kerang kalian bisa memperhatikan lagi dari mana sebenarnya kerang itu di peroleh. Kalian bisa menghindari adanya konsumsi kerang yang langsungberasalkan dari perairan yang sudah lama tercemar.  

 1.4 Hewan Cacing Tanah  

Untuk hewan yang satu ini ialah Cacing Tanah yang dimana organisme penting yang ada pada sistem tanah, karena memiliki sebuah efek yang sudah menguntungkan bagi kesuburan tanah. Lalu Cacing Tanah sendiri bisa untuk membantu pada peningkatan kesuburan tanah dengan cara membentuk sebuah lapisan dengan bahan organik yang berada di tanah lapisan atas. Karena memiliki fungsi ili sendirilah, Cacing tanah juga dikenal langsung sebagai salah satu Bioindikator yang sangatlah baik untuk bisa mendeteksi adanya polusi tanah.  

Dilansir dari kumparan.com tertulis adanya pengamatan yang telah dilakukan di Bavaria kurang lebih sampai 20 tahun lamanya. Disini juga bisa menunjukkan adanya peningkatan jumlah Cacing tanahini sangat signifikan pada tanah yang masihlah subur.  

Dari sini terdapat juga peningkatan populasi yang di sebabkan langsung pada tanah yang masih subur. Adanya peningkatan pda populasi cacing tanah ini sendiri diakibatkan langsung dari adanya aktivitas pada manajemen pengelolaan tanah yang sangatlah baik. Intinya yang bisa kalian semua ketahui ialah adanya organisme yang memang tepat untuk bisa mengevaluasi dampak dari aktivitas manusia terhadap tanah.